gambar

Senin, 09 November 2015

cerita aku kamu dan mereka


part 1:

Ini bukanlah cerita tentang sebuah kekaisaran, bukan pula cerita tentang bangsawan, namu ini adalah cerita anak sekolahan yang ku kembangkan menjadi kerajaan.
Aku mardi umur 15 tahun, anak smp yang bentar lagi lulus, aku punya cerita, bukan cerita tentang driku, ataupun temanku, namun cerita ini tentang orang yang setiap saat slalu ku perhatikan.
.
.
.
          Suatu hari awal dari rangkaian cerita, dia terpaku menatap meja cokelat yang ada di hadapannya. Ia diam, bagaikan hidup di dunia yang berbeda, matanya sendu, tak menghiraukan hiruk pikuk keadaan di sekielilingnya. Ku kira dia adalah orang yang apatis, tapi ternyata dia berlaku seperti itu karena tak ingin menambah dosa maupun air mata.
          Di depan, tepat di pojok kelas ada 2 orang makhluk sedang bersenda gurau, mereka terlihat bahagia, bagaikan sebuah keluarga yang tak mendambakan orang ketiga, mereka adalah rifqi dan aulia sepasang kekasih sempurna. Dan dia..... orang yang selalu kuperhatikan.......tinezia novalia.
.
.
.
          Jauh di dimensi lain, aku memulai imajinasi sebuah kerajan berdiri kokoh di antara benua, menara yang menjulang setinggi angkasa, dan kisah cinta tulus tak terbalaskan.
.
.
.
          Seorang putri dengan gaun merah muda terduduk di sebuah kursi, tangannya bekerja cepat mengolah selembar kain dengan sebilah jarum, tusuk tusuk jahit, hanya itu yang di lakukannya sejak 12 jam berlalu, peluh tak di hiraukannya, rasa kantukpun ia biarkan pergi, tujuannya kini hanya satu, membuat baju hangat untuk seseorang yang akan pergi diantara tumpukan salju. Sebelum terlambat ia harus bergegas....
.
.
.
          “pelayan, dimana hadiahku untuk pangeran rifqi?” tanya seorang putri bergaun putih. “hadiah yang mana tuan putri?” tanya balik si pelayan. “itu sebuah kotak berbungkus marron yang isinya sepotong baju hangat” ucap sang putri itu, bernama putri aulia. “oh, maaf tuan putri, sepertinya baju itu sedang dicuci, ku kira itu baju lama, sehingga aku memisahkannya dari kotak itu, maafkan aku tuan putri!” jelas si pelayan. “oh yatuhan bagaimana ini?, pangerang sebentar lagi akan pergi” keluh putri aulia “maafkan aku tuan putri” mohon si pelayan lagi. “ya sudah aku maafkan kamu sekarang kamu keluar, aku ingin mengistirahatkan jiwaku” titah putri aulia. “baik, tuan putri” pelayan itu lalu keluar dari ruangan sang putri.
          Dari luar terdengar suara tangisan, sang pelayan yang baru saja membuat kesalahan mendadak lunglai dan terduduk. Ia meratapi kesalahan terhadap tuan putri yang di kaguminya.
          Dari sudut lorong terdengar langkah kecil seseorang, si pelayan mendongak, matanya melihat seorang putri bergaun merah muda mendekati dirinya. “ada apa ini?, kenapa putri aulia menangis?” tanya sang putri, “maaf putri inez, sebenarnya itu karena kesalahanku, maafkan aku putri!” jawab pelayan. “baiklah aku akan masuk, sebaiknya kau istirahat saja dulu” ucap putri inez. “baik!” jawab pelayan.
.
.
.
          Kriet...., kakinya yang tertutup gaun melangkah halus di atas permadani, tatapan sendunya terjatuh di tumpukan gaun putih, tangannya bergerak mengelus helaian hitam dari mahkota sang putri yang sedang menangis, tiba tiba cristal onixs muncul menatap sang pelaku pengelusan. Keduanya sama sama terpaku beberapa detik...
          “kenapa kamu menangis?” tanya putri inez.  Sejenak  diam “aku.....baju yang krajut.....untuknya telah di cuci oleh pelayan......dan dia sebentar lagi akan.....pergi.....”jawab putri aulia tersedu. Terkejut, putri inez tak bisa berkata kata. Akhirnya setelah beberapa lama, tangannya bergerak meraih kotak biru yang dibawanya tadi dan mengambil isinya.
“ini....” di sodorkannya sepotong baju hagat kepada putri aulia. “kenapa?” putri aulia heran, “ ini untukmu, berikan padanya atas namamu” ucap putri inez. “tapi ini punyamu” bantah putri aulia. “sekarang ini bukanlah milikku, ataupun milikmu, ini adalah miliknya, cepat bergegaslah....” jelas putri inez. “terima kasih, terima kasih banyak” ucap putri aulia. Beberapa detik kemudian hanya seorang putri yang bertahan diruangan itu.
.
.
.
.
.
.
          ‘puk’, “ouch”, “kau melamun Mardi, lakukan sekali lagi dan keluar dari kelas ini” omel seorang guru. “ba-baik bu, maafkan aku” ucap si pemilik cerita.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC....


 

Admin: Mardiana Diana

3 komentar: